Rasanya sakit Daffa kemarin harus dibuat resumenya, karena banyak catatan yang harus Mama D renungkan dalam hal menghadapi Daffa sakit. Yang paling harus digaris bawahi adalah kepanikan Mama D and the gank hehehe, gimana nggak panik suranik saat Daffa di bawa ke DSA dan di cek darah, Daffa diduga gejala demam berdarah, mana mau lebaran lagi. Saat itu kondisi Daffa adalah :
- Demam 72 jam
- Suhu tubuh 38 -38.7 derajat C
- Batuk tak berhenti
- Behavior tetap pecicilan
- Muntah 3 kali
Hasil Cek Darah Daffa adalah :
- Hb = 11.7 gr/dl, L. normal 12.0-17.5 gr/dl, P. 11.5-15.0 gr/dl
- Hematokrit = 36 %, L. normal 40-54 %. P. 35 %-47 %
- Lekosit = 9300 uL, normal 4000-10000/uL
- Trombosit = 182.000/uL, normal 150.000-300.000/uL
Obat yang diberikan :
- Sanmol
- Topsilin (antibiotic)
- Koffex
Karena trombositnya turun maka Daffa diduga DSA demam berdarah dan harus cek darah ulang besoknya. Padahal range trombosit normal adalah 150.000 – 300.000/uL berarti kan trombosit Daffa normal. Karena penasaran tidak mendapat jawaban DSA yang mengena, Mama D posting di milis SEHAT. Alhamdullilah banyak sharing dari member dan yang membahagiakan jawaban dr. Wati yang menyejukan hati. Saat itu Daffa hanya diberikan obat penurun panas (Sanmol), sedangkan antibiotic dan koffexnya masuk tong sampah hehehe. Sayang juga sih tapi ya mo gimana lagi, kalo periksa di rumah sakit ya include dengan obatnya. Mama D pernah mengutarakan akan menebus resep di apotik luar rumah sakit tapi menurut menurut peraturan rumah sakit itu, pasien wajib menebus obat di apotik rumah sakit kecuali kalo obatnya nggak ada.
Hasil summary posting sharing dari Mba Ade, Mba Heni, Mama Bumi dan dr. Wati dari milis SEHAT adalah :
1. Pemeriksaan darah yang dilakukan kurang dari 72 jam, biasanya sulit menemukan
kelainan, pasti besoknya diulang lagi.
2. Pada dasarnya, smua infeksi virus bisa menyebabkan trombosit menurun
3. Kebanyakan demam karena infeksi virus turun sesudah hari ke-3, tapi kalo demam turun
jangan langsung mengira akan mengalami DB. Lihat kondisi anak :
a. ika infeksi virus biasa, misalnya batuk pilek, saat demam turun, kondisi anak
kembali lincah
b. Jika Demam Berdarah, Kondisi anak menjadi memburuk, pucat, lemas, teler abis,
mual hebat, muntah-muntah, terjadi pembengkakan perut bukan kembung karena
ada pendarahan di perut
4. Kalau DB, demamnya 40 derajat C, manteng turunnya sedikit
5. Kalau ada batuk pilek, kemungkinan DB kecil sekali
6. Saat observasi, perbanyak minum dan minum.
7. Untuk kasus Daffa, tidak usah cek darah lagi, karena :
a. Mengundang infeksi ke tubuh anak (kan setiap kali ada luka, termasuk luka tusuk
jarum, kita memasukkan kuman)
b. Trauma, nanti setiap demam dia ketakutan
c. Ongkos dll
8. Deman berdarah dikarenakan virus, jadi tidak mempan oleh antibiotika.
Secara Mama D mah, lebih percaya sama milis SEHAT hehehe, soalnya Mama D liat setiap pasien di rumah sakit itu, yang kondisinya panas pasti deh di cek darah, mo satu hari, dua hari malah yang baru beberapa jam juga. Tapi Papa Shalman yang saat itu lagi riweuh rapat, mengharuskan Daffa cek darah ulang. Keliatannya Papa Shalman pengen make sure gitu deh. Akhirnya keesokan harinya hari Jumat 28 Okt 2005, Daffa cek darah ulang, hasilnya :
- Hb = 10 gr/dl
- Hematokrit = 39%
- Lekosit = 9300 uL
- Trombosit = 177.000/uL
Wah Si DSA makin menjadi-jadi deh, soalnya trombosit Daffa kan turun dari 182.000 menjadi 177.000. Mama D berusaha mendiskusikan hasil dari sharing teman2, tapi si DSA keukeuh jumeukeuh kalo Daffa diduga Demam berdarah. Trus dia juga liat behaviour Daffa yang jadi pendiem, kalo menurut mama D mah, Daffa lagi pendiem karena lagi bobo kebangunin di periksa DSA. Diskusi berjalan a lot suralot, duh sampai nggak tau lagi mo apa yang diomongin lagi. Soalnya si DSA kuliah kedokteran jadi panjang banget dia berkomentar dan para suster ikut-ikutan berdiskusi. Hasil diskusi, Daffa tetep harus cek darah ulang.
Karena kerjaan kantor juga numpuk, Mama D menelpon bala bantuan dari Tasik yaitu Nenek dan Aki. Mama D nggak tenang tinggalin Daffa hanya dengan pengasuhnya. Tapi dengan adanya bala bantuan, malah jadi makin riweuh, mama D lupa kalau Nenek dan Aki dr minded. Nenek, Aki dan Papa Shalman kompakan mengharuskan Daffa cek darah ulang, soalnya Daffa tersayang mo mudik hari Minggu tanggal 30 Oktober 2005. Dengan air mata dalam hati, Daffa diantar Mama D, Nenek dan Aki ke periksa darah ulang lagi. Setelah di cek darah ulang hasilnya adalah :
- Hb = 12 gr/dl, L. normal 12.0-17.5 gr/dl, P. 11.5-15.0 gr/dl
- Hematokrit = 37.4 %, L. normal 40-54 %. P. 35 %-47 %
- Lekosit = 4900 uL, normal 4000-10000/uL
- Trombosit = 190.000/uL, normal 150.000-300.00/uL
Saat itu yang praktek adalah dr. H buka dr. R seperti biasa. Menurut dr. H hasil cek darah Daffa bagus karena trombosit naik dari 177.000 menjadi 190.000, tapi saat di pegang Daffa masih panas padahal hari itu adalah hari kelima. Mama D heran banget soalnya saat di cek pake thermometer digital di rumah mah 37 derajat C. Si dokter malah bilang Daffa harus di rawat, halah gimana si dokter teh katanya hasil darah bagus kok diralat ?. Dia bilang karena pasien DB suka ada yang trombositnya normal, loh kok? Mama D kasih tau tentang sharing milis SEHAT, si dokter malah bilang justru karena ada batuk dan pilek, kemungkinan DB nya besar, karena kondisi anak lagi lemah. Halah Mama D jadi lieur kok bertolak belakang dengan sharing milis ya?. Mama menolak Daffa di rawat dan minta cek panasnya Daffa dengan thermometer ke suster dan hasilnya panasnya Daffa 36.9 derajat C, eh si dokter minta ulang lagi hasilnya 37 derajat C. Uuuu Mama D jadi sebel sama si dokter H teh, kayaknya kepala Mama D udah ngebul deh. Akhirnya si dokter memberikan resep :
- spectrum (antibiotika)
- racikan : ventolin, ryzen, aqua
Malah dikasih obat racikan lagi, emangnya Daffa asma kok dikasih ventolin segala, ih makin sebel aza deh. Tu obat langsung Mama D buang ke tong sampah, biarin deh buang uang biar buang penyakit sekalian. Akhirnya Mama D rapat menyamakan visi dan misi dengan Papa Shalman, Nenek dan Aki. Mama D kasih liat jawaban dr Wati, alhamdullilah mereka mau mengerti. Daffanya mah anteng aza, walapun jadi rada leuleus, ya wajar aza dia kan lagi sakit dan nggak mau makan, yang diisi tuh air, air dan air. Daffa ampe bosen ama pocari sweat, juice dan air putih. Duh jadi binun mana nggak mau minum lagi, akhirnya beli S O2, air hexagonal yang gambarnya Delon, alhamdullilah Daffa mau minum air Delon walapun dengan bujukan yang rada aneh hehehe. Kalo liat kucing kami bilang “Kata Meong Daffa harus minum” jurus itu ampuh juga. Jadi kami tuh selalu nongkrong di kaca depan rumah, nungguin binatang-binatang lewat hahahaha.
Akhirnya hari mudik telah tiba, Mama D menyakinkan semua family kalo Daffa hanya Ispa aza seperti dr. Wati bilang. Saat perjalanan mudik ke Tasik, jalanan ramai sekali, apalagi motor, weuh buanyak banget, ampe ngalangin jalan hehehehe. Tapi kemacetan itu ada hikmahnya, dijalan kan banyak kuda, jadi si kuda di pinjem namanya biar Daffa mau minum. Alhamdullilah Daffa menghabiskan 3 botol air delon, blom pocari sweat dan buavita, misi sukses deh. Hatur nuhun kuda… hihihihihi. Sampai di rumah nenek, Daffa langsung lari-lari, nggak keliatan kalo dia lagi sakit, malah selalu ngabur mulu setiap pintu buka. Alhamdullilah sampai sekarang Daffa makin sehat, nafsu makan mulai bertambah dengan jurus pinjem nama binatang hehehe.
Terima kasih tak terhingga untuk dr. Wati, Mba Ade, Mba Heni dan Mama Bumi via milis Sehat. Terima Kasih juga untuk Mbak Patty, Mba Astuti, Nopi, Teh Irma, Anie, dan Ale Via YM
Terima kasih juga untuk The Eci, Mba Susy, Dea, Fitri dan temen kantor lainnya via rumpian kantor dan YM hehehe.
Maafkan Mama Daffa, ngajakin Daffa cek darah terus. Walapun Daffa nggak nangis pas ditojos tapi Mama tau kalo Daffa nggak mau kan?????