

Akhirnya tiba lah waktu pulang yaitu pada hari Jumat tanggal 27 November 2006 jam sembilan pagi… Untuk rute pulang kami pilih Lintas Timur karena kewajiban survei pan udah lunas tinggal bikin laporan uggghhhh :D. Saat di Kayu Agung, kami melewati tukang duren yang sangat menggoda iman si Papa yang malu-malu hihihihi, kenapa malu-malu abis nggak berani ngomong ngidam duren, soalnya istri tercintanya alergi sama duren. Demi cinta sejati akhirnya mama minta untuk stop di tukang duren itu. Ternyata Kaka Daffa itu balad papa, bisa diliat dia memilih ikut papa ke tukang duren daripada ikut mama nunggu di mobil hihihihi. Mama nggak sendirian di mobil bedua kakek hihihi ternyata mama yang balad kakek, kakek memang nggak terlalu suka duren dan sejak dia dinyatakan penderita diabetes dan asam urat, kakek menyatakan untuk jauh dari duren. Durennya murah lo Cuma 5 ribu satu kepala, Papa, Nenek, Mang Rai dan Kaka Daffa menghabiskan 3 duren, kayaknya siy enak, duren sumatera geto lo, sayang mama nggak bisa foto durennya untuk ngabibita karena nggak kena zoom hihihi mama motret memang dari jarak yang jauh, kan nggak lucu mau motret malah muntah ;P.
Kami tiba di Pelabuhan Bakau Huni jam delapan malam, perjalanan pulang pake degdegan niy, akibat papa ikutin petunjuk jalan baru nggak lewat Menggala seperti di map mudik Telkomsel. 100 Km pertama itu jalan bener2 bagus, maklum jalan baru tapi setelah melewati kota Way Jepara Kab Lampung kami menemukan jalan-jalan yang berlubang dan lama-lama tambah jelek deh jalannya. Udah gitu sepanjang jalan SPBUnya baru di bangun hingga kita ngisi bensin ngeteng gitu, terima kasih juga buat Pak polisi yang merekomentasikan bensin yang murni. Akhirnya setelah 180 KM kami menemukan SPBU, alhamdullilah. Karena hari mulai gelap kami berjalan berombongan dengan dua mobil istilahnya mah kompoi. Duh itu jalan makin lama makin kami merasa off road hihihihi, yang nggak ngerasa cuma mama dan daffa kali abis kita mah pan ratu dan raja pelor sedunia ;P. Alhamdullilah tau-tau mobil kami udah deket dengan pelabuhan bakau huni, senangnyaaaaa, legaaa pisannnn. Kalo disuruh ke jalan yang itu nggak mau lagi ahhhh, kecuali kalo jalannnya udah bagus, serem booo mana mobil yang melewatinya juga dikit, kayaknya hanya rombongan kita aza yang pake jalan itu ihhhhh ngeriii.
Kali ini untuk mencapai kapal laut, tidak ada hambatan sama sekali secuali mobil plat BE yang nyele, yang mepet banget ke mobil kami. Tanduk mama akhirnya keluar, mama marain aja si sopirnya itu, akhirnya dia diem dan menunduk, yang kayak begini yang bikin macet dan yang bikin nggak teratur teh. Selama di kapal laut kita hanya menunggu di mobil, soalnya kapal kita sama kayak kapal yang sebelomnya. Ombaknya lumayan besar, kerasa banget ampul-ampulannya. Jam dua pagi kami sampai ke rumah nenek Euis di Rangkabitung, langsung deh selonjoran, dan cari bantal nggak lima menit langsung nyungsep.
Esoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan mampir di Tante Huda, tantenya papa di bekasi dan ke rumah Om Chairul omnya papa di Karawang. Senangnya, karena udah dua taun kita nggak bersua.






Kalo Ke Jakarta nggak afdol kalo nggak ke sate maranggi di Purwakarta walapun kami harus keluar pintu tol di pintu cikampek. Hmmmm sate yang satu itu memang mantap sekali. Tau berapa tusuk yang mama makan saat itu???? Dua puluh tusuk booo hihihihihi nggak ada yang ngalahin soalnya Kakek dan Papa inget sama asam uratnya, Nenek inget sama hipertensinya dan Mang Rai dan Daffa seneng ngebelah Ikan bakarnya. Tambah nikmat dengan es kelapa yang rasanya original itu.