Status siaga satu diberlakukan mama pada Kaka Daffa, karena ternyata saat Kaka Daffa sedang dikelilingi oleh Mama D, Papa Shalman, Nenek dan Kakek pun masih bisa terjadi sebuah kecelakaan hiks, “Ya Allah maafkan kami yang kurang menjaga kaka Daffa”. Kecelakaan itu terjadi tanggal 14 Januari 2007 sesaat setelah Akad Nikah Tante Ayang dan Om Feby di Talaga Bodas. Jadi setelah akad nikah itu selesai, kami segera bergegas menuju gedung Kologdam untuk acara resepsi. Mama, Papa dan Kaka Daffa sudah berada di mobil kemudian kakek dan nenek menyusul kemudian, so mama pindah ke bangku belakang dari bangku kiri depan. Dari awal memang pintu mobil kami sudah terbuka karena kami kepanasan dengan baju kebangsaan :D. Papah Shalman berada di tempat sopir, kaka daffa di bagian kiri depan mobil dan kakek dan nenek berada di samping kaka daffa bersiap untuk naik mobil tapi diselingi dengan ngobrol. Tau-tau kaka Daffa bermanuver dan ngengolondong ke tangga mobil hingga jatuh ke aspal hiks hiks. Kami semua nggak nyangka dengan manuver itu dan nggak tau manuvernya bagaimana karena sibuk sendiri dan pa andel-andel (ughhh).
Dari kepala belakang kiri Kaka Daffa menyembur darah sehingga Papa Shalman langsung menuju ugd rumah sakit terdekat. Ya Allah itu darah banyak sekali hingga lengan kebaya putih mama berganti warna merah. Saat dijalan mama berusaha untuk menghentikan darah sambil mengingat2 materi kegawatdaruratan PESAT 5 Bdg. Setelah diperiksa dokter, luka itu harus dijait 1 jahitan, walapun satu tapi tetep aza ngeri. Mendengar kata jait tangisan Daffa makin menjadi, apalagi melihat suster2 bawa gunting dan bilang akan menggunting rambut kaka daffa, wuahhh itu si kaka malah berkomentar “Nggak mau digunting rambutnya, kaka mau digunting ditempat main-mainan” (maksudnya kiddies cut). Saat suster bawa suntikan sempet2nya kaka daffa bilang “Kaka ngak mau di suntik nanti dokter dosa” (hmmm). Dan akhirnya kaka daffa dijait di pelukan mama, karena dia nggak mau tidur di kasur tindakan, jelek katanya (ughhh). Kalo keadaan daffa sendiri dinyatakan ok oleh dokter karena ngomongnya tidak melantur, tidak muntah, gerakan sangat aktif, pupil mata sama, lidah dan gigi ok. Dokter memberikan resep antibiotik dan pain killer yang tidak mama tebus karena daffa tidak demam, behavior ok banget dan setelah melihat info obat itu ternyata bisa menimbulkan sesak dll oh no.
Dengan keadaan itu mama dan papa mengambil keputusan untuk pulang dan mendrop kakek dan nenek ke kologdam. Ternyata sesampai di kologdam, kaka daffa nggak mau pulang, daripada di rumah bete, ya sudah mama dan papa memutuskan untuk tinggal sambil waswas. Alhamdullilah sampai bubaran panitia kaka daffa nggak rewel, banyak makan dan mondar mandir kayak setrikaan sambil lirik2 ke pengantin wanita yang cantik banget. Nasib lengan kebaya putih yang mama pakai lumayan berbecak walapun sudah mama cuci di toilet kologdam xixixixi, tapi nggak terlalu keliatan siy karena selendang songket yang mama pakai besar sehingga bisa menutupinya.
Sampai kami tiba di rumah kaka daffa nggak menunjukan kerewelannya malah dia langsung main skuter membuat mama nyur-nyuran. Yang bikin bingung daffa adalah posisi dia tidur, dia takut dengan lukanya itu. Akhirnya papa mencontohkan cara tidur yang nyaman dengan cara tengkurep, dan akhirnya kami bertiga tidur dengan cara tengkurep karena setiap kaka daffa bangun dia menangis kalo liat mama tidur terlentang xixixixi masih jail juga ni anak.
Hari ketiga kami kontrol dan perban diganti, masih dikasih obat yang sama dan masih nggak ditebus hehehe apalagi setelah baca sms Mba Pat dan email dari Bunda makin yakin deh.
Hari keenam jaitan dibuka, alhamdulilah walapun dari teras rumah sakit itu kaka daffa udah stres tapi saat pembukaan jaitan nggak terlalu heboh. Dan sekarang rambutnya kaka Daffa pitak dan tetep berperban abis kaka Daffa nggak mau buka perban, nah lo…… Foto-foto blom bisa di upload karena masih dicamera si papa, menyusul aza ya.