Thursday, August 4, 2005

Memilih Kata bagi Anak

Kata-kata tajam dapat melukai batin anak, yang kadang sulit disembuhkan hingga kapan pun. Sebaliknya, seungkap pujian boleh jadi akan mengangkat rasa percaya dirinya dan mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Jadi, kenapa kita harus pelit memberikan pujian pada anak?



Kata-kata Bisa Berbeda Artinya



Kata, oleh beberapa psikolog diartikan sebagai simbol yang dibuat manusia, hingga sebetulnya memiliki penafsiran yang tidak jelas. Misal, kata “sadis” berbeda ukurannya untuk setiap orang. Itulah yang menyebabkan ketidakharmonisan komunikasi, karena adanya perbedaan persepsi dari kata “sadis” itu.



Memang, kata adalah bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kadang lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal, misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Contohnya, ketika Anda memberikan kata pujian dengan intonasi yang berbeda-beda, bisa dipersepsikan lain pula oleh anak Anda. Jadi, pandai-pandailah mengucapkan kata-kata pujian yang tulus.



Pemaknaan kata-kata sangat berhubungan erat dengan mimik atau bahasa tubuh yang menyertainya. Tanpa mimik atau bahasa tubuh pun, kita bahkan tetap bisa memaknai untaian kata-kata dari intonasinya. Coba bicara di telepon, tanpa melihat mimik anak pun, Anda tahu dia sedang jengkel atau marah.



Dampak Kata-kata pada Anak



Kata-kata bisa berdampak negatif bagi anak, karena tidak semua anak mempunyai “pertahanan diri” dalam menerima kata-kata yang tak mengenakkannya. Kata-kata pujian pun harus dilontarkan pada anak dengan hati-hati. Sebab, jika tidak tepat waktu, misal sedang ada masalah, maka pujian bisa berakibat fatal. Begitu pun jika tak sesuai dengan kenyataan, pujian bisa dianggap sindiran atau ejekan. Bahkan, ada kemungkinannya pujian Anda diprotes anak, karena ia merasa dirinya tak pantas dipuji.



Pujian yang Anda berikan pada anak, sebaiknya diberikan tepat waktu dan mempunyai tujuan jelas, seperti:



a.. Mengobati Luka Batin. Yang harus Anda pahami pula, pujian tak hanya perlu disampaikan atas sebuah “prestasi” anak. Sebaliknya, pujian juga perlu diberikan pada anak yang tidak menuai “prestasi” seperti yang Anda harapkan. Contoh, ketika Anda mendapati nilai ulangan atau rapor anak yang kurang bagus, semarah apa pun Anda, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata “tolol, bodoh, goblok”. Atau, jangan mengucapkan, “Seharusnya nilai kamu bisa lebih bagus.” Sebaiknya, Anda memberikan pernyataan, “Nilai begini, kalau menurut Bapak, sebenarnya bisa lebih baik.” Jadi, kata-katanya mesti diatur. Bila Anda terlalu memuji, seperti dengan mengatakan, “Sebetulnya kamu mampu,” harus dilihat apakah benar anak Anda memang mampu. Pernyataan Anda harus tetap mempertimbangkan apakah sesuai atau tidak dengan anak, jangan terlalu tinggi.


b.. Meningkatkan Rasa Percaya Diri. Semua kata-kata dan sikap Anda akan mempengaruhi perkembangan rasa percaya dirinya lebih besar dari pada pengaruh hal-hal lain. Karenanya, pujilah anak Anda bila ia berhasil dalam melakukan sesuatu, walaupun hanya merupakan hal-hal kecil pun sudah akan membuat ia bangga. Misalnya, bila Anda membiasakan ia mencuci piring makannya sendiri, berikan acungan jempol dan kata “hebat” ketika ia tidak lalai melakukan tugasnya.



c.. Penghargaan atas Sikap Baik. Ungkapkan perhatian Anda terhadap sikap baik yang ditunjukkan anak dalam kata-kata pujian seperti “kau mau sikat gigi tanpa perlu diminta, itu bagus sekali”. Ucapan-ucapan semacam ini akan lebih mendorong anak bersikap baik, daripada kata-kata keras seperti perintah. Jangan ragu-ragu untuk memuji anak bila ia bersikap baik. Anak Anda akan selalu bersikap seperti itu tanpa harus disuruh lagi.


SUMBER : SAHABAT NESTLE

Sumber : Milist Sehat

Posted by dinnykaa at 06:23:37 | Permalink | No Comments »